Sabtu, 17 Mei 2008

penyakit peritonitis

BAB I
LANDASAN TEORI


A. PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN PERITONITIS
Dalam istilah peritonitis meliputi kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muskular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemik dengan syok sepsis. Peritoneum bereaksi terhadap stimulus patologik dengan respon inflamasi bervariasi, tergantung penyakit yang mendasarinya.
Bila ditinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat. Secara umum, infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal).
Infeksi peritonitis relatif sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya.
Selian tiga bentuk di atas, terdapat pula bentuk peritonitis lain, yakni peritonitis steril atau kimiawi. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misal penyakit Crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen. Tanda dan gejala klinis serta metode diagnostik dan pendekatan ke pasien peritonitis steril tidak berbeda dengan peritonitis infektif lainnya.

B. PENYEBAB PERITONITIS
Bentuk peritonitis yang paling sering ialah spontaneus Bacterial peritonitis (SBP) dan perintonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen. Namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat Asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika telah terjadi bakteremia. Sekitar 10 – 30% pasien dengan sirosis dan asites akan mengalami komplikasi seperti ini. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi resiko terjadinya peritonitis dan abses. Hal tersebut terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites.
Sembilan puluh persen kasus SBP terjadi akibat infeksi Monomikroba. Patogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah
Bakteri gram negatif yakni 40% Eschericia Coli
7% Klebsiella pneumoniae +
Spesies pseodomonas +
Proteus
20% gram negatif lainnya
- Bakteri gram positif yakni 15% Streptococcus pneumoniae
15% Jenis streptococcus lain
3% Golongan streptococcus
Kurang dari 5% kasus juga ditemukan mikroorganisme anaerob dan dari semua kasus, 10% mengandung infeksi campur beberapa mikroorganisme.

C. PATOFISIOLOGI PERINTONITIS
Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin.
Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan. Penyebaran kuman dengan membentuk komportemen-komportemen yang kita kenal sebagai abses. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral / intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.

D. TANDA DAN GEJALA KLINIS
- Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral). Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal).
- Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu.
Misalnya : Perforasi lambung, duodenum, pankreatitis akut yang berat,/ iskemia.

Tanda-tanda peritonitis
- Demam tinggi
- Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia
- Takikardi
- Dehidrasi
- Hipotensi

E. PERAWATAN PADA PASIEN PRA OPERASI DAN PASCA OPERASI
Perawat memiliki peranan penting dalam meminimalkan terjadinya infeksi serta penyebaran infeksi :
1. Menjaga pasien terbebas dari mikroorganisme
a. Medikal aseptik (teknik bersih)
- Meliputi prosedur yang dilakukan untuk menurunkan dan mencegah penyebaran mikroorganisme.
- Tindakannya adalah cuci tangan, mengganti linen.
- Pada teknik ini, suatu area dikatakan terkontaminasi jika diwaspadai / terdapat patogen.

Jika diwaspadai / terdapat patogen
Misal : bedpon yang telah dipakai, lantai, kassa yang basah.

2. Surgical asepsis (teknik steril)
- Untuk meniadakan mikroorganisme
- Tindakannya adalah sterilisasi
- Suatu area dikatakan tidak steril jika terkontaminasi benda yang tidak steril
Misal : sarung tangan bagian luar tersentuh tangan alat steril tersentuh tangan.

Cuci tangan dilakukan pada saat :
- Awal mulai shift
- Sebelum / sesudah kontak dengan klien
- Sebelum melakukan prosedur invasif
- Sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka
- Setelaj kontak dengan cairan tubuh
- Setelah selesai shift

Penggunaan sarung tangan
Untuk mencegah terjadinya transmisi patogen baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penggunaan sarung tangan dapat menurunkan :
- Kemungkinan terjadinya kontak dengan mikroorganisme yang infeksius.
- Resiko penyebaran flora andogen dari perawat ke pasien.
- Resiko penyebaran mikroorganisme dari pasien ke perawat.
- Sarung tangan digunakan pada saat perawat :
Mengalami luka pada kulitnya
Melakukan tindakan infasif
Beresiko untuk terpapar dengan darah dan cairan tubuh

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN MASALAH PERITONITIS
DI BANGSAL BEDAH

Tanggal : 04 Desember 2007 jam 12.30
Tanggal Pengkajian : 04 Desember 2007 jam 12.45
A. PENGKAJIAN
Identitas
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. T
Umur : 35 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Bhayangkara No. 23

b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. A
Umur : 38 tahun
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Bhayangkara No. 23
Hubungan dengan pasien : Suami pasien

Status Kesehatan
a. Keluhan Utama
- Nyeri pada abdomen / luka post operasi
b. Lama keluhan
- Nyeri terasa saat bergerak
c. Timbulnya keluhan
- Nyeri timbul mendadak atau tiba-tiba
d. Faktor yang memperberat
- Luka pada abdomen / luka post-operasi
e. - Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
- Tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi rasa nyeri

Riwayat Kesehatan
a. Penyakit yang pernah dialami
- Belum pernah dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang serupa
b. Riwayat Alergi
- Pasien tidak ada riwayat alergi obat-obatan maupun makanan
c. Riwayat kesehatan keluarga
- Tidak ada riwayat penyakit keturunan

Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola aktivitas latihan
Aktivitas
0
1
2
3
4
Mandi
Eliminasi
Mobilisasi ditempat tidur
Pindah
Ambulansi
Makan











b. Nutrisi / Metabolik
- Pasien tidak dapat mencerna makanan
- Pasien menjalani puasa
- Asupan nutrisi kurang
c. Eliminasi
- Eliminasi tidak teratur / kurang karena tidak adanya nutrisi atau asupan yang masuk ke dalam tubuh.
d. Pola istirahat tidur
- Tidurnya sering terbangun akibat rasa nyeri
- Pola tidur pasien tidak teratur
e. Pola hygiene tubuh
- Pasien terlihat kumuh
f. Genogram






Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien

g. Pola kognitif perseptual
- Status mental
Sadar
- Dalam menghadapi masalah masih bisa berpikir positif.
h. Pola konsep diri
- Pandangan terhadap dirinya baik
- Pasien tidak dapat melakukan perannya
i. Pola koping
- Takut dan tampak gelisah akibat perubahan tubuh yang terjadi
j. Pola seksual reproduksi
- Kebutuhan sexual tidak terpenuhi
k. Pola peran dan hubungan
- Selama sakit pasien tidak bisa melakukan perannya. Hubungannya dengan keluarga tetap baik.
l. Pola nilai dan kepercayaan
- Kesehatan itu penting dan penyakit adalah cobaan dari Tuhan sehingga ia berusaha berobat.

Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum
- Pasien tampak pucat, cemas
- Badan sangat lemas
b. Komposmetif
- Sadar penuh
c. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala dan Rambut
- Infeksi
a) Bentuk kepala : Mesocepal, bulat (normal), simetris
Ubun-ubun : Dokter
Kulit kepala : Agak lembab, tidak ada lesi
Agak berbau, tidak ada tonjokan
b) Rambut : Tidak rontok, kering
Agak bau
Hitam
c) Wajah : Bulat, oval
Warna kulit : Pucat
Struktur wajah : Tidak ada luka
Tidak ada benjolan
Kesan wajah : Lemah
Agak cemas
Tidak ceria

d. Mata
- Inspeksi
1. Kesimetrisan
- Simetris dan tidak juling
2. Kelopak mata
- Tidak ada lesi
- Tidak ada benjolan
3. Konjungtiva
- Warna tidak pucat
- Tidak ada peradangan
4. Sklera
- Tidak iklerik, berwarna putih
5. Kornea dan iris
- Tidak ada peradangan
- Dapat bergerak dengan normal
e. Hidung
- Inspeksi
1. Tulang hidung dan posisi septum nasi normal, tidak ada pembengkakan.
2. Lubang hidung
- Tidak ada sklet, tidak ada pendarahan
- Selaput lendir lembab, kasa hidung lembab
- Tidak ada polip
3. Coping hidung
- Tidak ikut membesar / melebar saat bernafas
f. Telinga
- Inspeksi
1. Bentuk telinga simetris
Ukuran telingan sedang
Ketegangan telinga lentur

2. Lubang telinga
Tidak ada serumen
Tidak ada benjolan
Cortdis tidak ada skleret / serumen
g. Mulut dan Faring
- Inspeksi
1. Keadaan bibir - Tidak ada luka dan tidak sumbing
- Kering
2. Keadaan gusi - Gusi berwarna merah
Gigi tampak kotor
3. Lidah : Warna lidah pucat
Mulut terdapat bau mulut
4. Ocafaring : Tidak ada benda Asing
Tidak ada perubahan suara
Tidak ada Tonsilitis
Suara napas normal
h. Leher
- Inspeksi
1. Posisi trachea : Simetris
2. Tyroid – Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
3. Suara – Tidak ada perubahan suara
4. Kelenjar lymphe – Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe
5. Vena fegularis – Tidak terjadi pembesaran
6. Warna kulit – Tidak ada Ruber
i. Kulit
- Inspeksi
- Kotor
- Tidak ada ruber
- Palpasi
- Hangat
- Tidak dingin
- Turgor kurang
- Agak kering
j. Dada
- Inspeksi
1) Bentuk Thorax – Normal, Simetris
2) Pernapasan
Irama – reguler / teratur
Pola – pernapasan dada
3) Tidak ada kesulitan napas
- Palpasi
® Paru : Getaran suara (vocal fromitus)
Seimbang kanan dan kiri (normal)
- Perkusi
® Resonan (normal)
- Auskultasi
® Vesikuler (normal)
Suara ucapan normal
k. Abdomen / Perut
- Inspeksi
® Bentuk abdomen : Tidak ada distensi abdomen
Terdapat luka / lesi post operasi
- Auskultasi
® Peristalik usus terganggu akibat luka post operasi.
- Palpasi
® Ada nyeri pada semua kuadran
Terdapat luka
Terdapat tanda-tanda asites
- Perkusi
® Suara Abdomen : Tymphony
Hepar : Pekok
Lien : Pekok
l. Tulamin / Genetalia
- Sekitar pubis tidak ada lesi
- Meatus Uretra tidak ada lesi
- Perineum tidak ada luka

B. ANALISA DATA
Data Fokus
- Nyeri pada abdomen
- Mulut berbau
- Gigi tampak kotor
- Dehidrasi
- Hipertemi

NO.
DATA SYMPTOM
ETIOLOGI
PROBLEM
1.
Gelisah, wajah terlihat meringis menahan sakit pasien terlihat hati-hati saat bergerak.
- Agen Biologi
(adanya luka di abdomen post operasi)

- Nyeri akut
2.
Kebutuhan pasien di bantu oleh keluarga
- Kelemahan fisik
- Intoleransi aktivitas
3.
- Badan terasa panas
Bibir kering
Turgor kulit jelek
- Dehidrasi
- Hipertensi
4.
Cemas dan perasaan tidak adekuat
- Perubahan dalam status kesehatan
- Ansietas
Cemas
5.
Kulit pasien pada luka dan sekitar luka tampak merah.
- Agen biologi (luka post operasi)
- Kerusakan
Integritas kulit
6.
Susah bernafas frekuensi pernafasan terlihat cepat.
- Penurunan kedalaman pernapasan sekunder (akibat tindakan melindungi rasa nyeri).
- Ketidakefektifan pola pernapasan.
7.
Gelisah, berkeringat, gatal-gatal.
- Potensial terhadap memburuknya/kambuhnya perintonitis
- Perubahan perlindungan

C. INTERVENSI
TGL/ JAM
NO
DX
TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL

1.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam pasien dapat :
- Mengidentifikasi sumber-sumber nyeri
- Menggambarkan rasa nyaman dari orang lain selama menga lami nyeri
- Kaji tanda-tanda vital
- Anjurkan pasien untuk beristirahat / bedrest
- Ajarkan tindakan penurunan nyeri
- Ajarkan metode dis traksi selama nyeri
- Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa nyeri
- Sebagai data dasar
- Mengurangi aktivi tas pasien
- Menurunkan intensi tas nyeri
- Mengetahui tingkat/ peningkatan nyeri
- Mengenali adanya rasa nyeri
- Menghindari adanya kesalahan konsep tentang nyeri

2.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
Pasien dapat :
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleran aktivitas
- Memperlihatkan ke majuan (khususnya tingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin)
- Memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas.
- Kaji tanda-tanda vital
- Kaji respon pasien terhadap aktivitas
- Kurangi intensitas frekuensi / lamanya aktivitas
- Meningkatkan aktivi tas secara bertahap
- Ajarkan pasien meto da penghematan ener gi untuk aktivitas
- Sebagai data dasar
- Mengetahui adanya peningkatan atau penurunan aktivitas pasien
- Mengurangi frekuen si pernapasan me ningkat berlebihan setelah aktivitas
- Menurunkan upaya bernapas dan mengurangi beban kerja otot

3.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
- Suhu tubuh pasien normal
- Mengidentifikasi faktor-faktor risiko terhadap hipertemia
- Kaji tanda-tanda vital
- Ajarkan pasien pen tingnya mempertahan kan masukan cairan yang adekuat
- Pantau masukan dan keluaran
- Ajarkan pentingnya peningkatan masukan cairan dalam tubuh
- Ajarkan tanda-tanda hipertemia
- Sebagai data dasar
- Mencegah dehidrasi
- Pentingnya masukan cairan untuk aktivi tas
- Masukkan dan ke luaran seimbang
- Mengetahui tanda awal hipertermia

4.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
- Pasien rileks
- Rasa cemas pasien berkurang
- Pasien paham terhadap perubahan yang terjadi

- Berikan lingkungan yang nyaman
- Anjurkan pasien untuk bedrest
- Memonitor kebutuhan pasien
- Tenangkan pasien
- Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat awal melakukan tindakan
- Menurunkan stimu lus lingkungan
- Menyingkirkan tanda kecemasan
- Menampilkan peran dengan memperta hankan hubungan sosial
- Adanya penurunan atau peningkatan kebutuhan

5.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
Pasien dapat :
- Mengekspresikan hasrat untuk ikut serta dalam pence gahan luka
- Menggambarkan etio logi dan tindakan pencegahan
- Memperlihatkan inte gritas kulit bebas dari luka
- Kaji kecukupan ma sukan cairan
- Berikan dorongan lati han tentang gerak
- Lindungi permukaan kulit yang sehat
- Masase dengan lem but kulit sehat di sekitar area yang sakit
- Dalam hidrasi yang adekuat kira-kira 2500 ml sehari
- Kemampuan kulit untuk pulih
- Meningkatkan penyembuhan luka
- Merangsang sirkulasi

6.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
Pasien dapat :
- Menjaga kebersihan khususnya di daerah luka
- Bebas dari proses infeksi selama pera watan
- Melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mence gah infeksi
- Kaji terhadap
prediktor :
→ Infeksi
→ Operasi abdomen
- Kaji terhadap faktor-faktor yang mengacau kan
→ Usia
→ Kondisi penyakit yang mendasari
- Kurangi organisme yang masuk ke dalam pasien (khususnya luka)
→ Cuci tangan
→ Teknik antiseptik
→ Tindakan isolasi
- Amati terhadap mani festasi klinis infeksi
- Mengidentifikasi individu yang bere siko terhadap infeksi

7.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
Pasien mempunyai pola pernapasan efektif dibuk tikan dengan tidak adanya bunyi napas adventisius.
PaO2 : 80 mmHg
Saturasi O2 : 95%
TD : 90/60 mmHg dan berorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
- Pantau hasil GDA dan waspada terha dap indikator-indika tor hiposekmia satu rasi O2 rendah dan PaO2
- Auskultasi lapang paru-paru
- Pertahankan pasien pada posisi semi fowler/ fowler
- Anjurkan napas dalam
- Berikan oksigen sesuai program
- Tanda-tanda klinis :
Hipotensi, Tokikar dia Hiperventilasi, gelisah depresi SSP dan kemungkinan sianosis
- Mengkaji ventilasi dan mendeteksi kom plikasi pulmoner
- Membantu upaya pernapasan
- Meningkatkan oksigenasi

8.
Setelah dilakukan
Tindakan keperawatan
1 x 24 jam
Pasien bebas dari gejala peritonitis yang mem buruk / berulang / syok septik dibuktikan dengan normotermia
TD : 90/60 mmHg
- Penurunan lingkar abdomen
- Nyei tekan minimal pada palpasi
- Kaji abdomen selama 1-24 jam selama fase akut dan setiap 4 jam bila kondisi pasien telah stabil
- Bila diprogramkan, pasang gastrik dan sumbangkan pada penghisap
- Pantau TV sedikitnya setiap 2 jam, lebih sering bila kondisi pasien tidak stabil
- Berikan antibiotik sesuai program
- Mengkaji motilitas
- Mencegah dan me nurunkan distensi
- Waspada tanda-tan da syok septik : peningkatan suhu, hipotensi, takikordia pernapasan cepat
- Mengurangi nyeri



BAB III
KESIMPULAN

Pada pasien peritonitis perlu dilakukan perawatan dan kebersihan diri yang meliputi :
- Perined Hygiene untuk menghindari resiko-resiko infeksi di daerah perineum.
- Ord Care untuk menjaga kebersihan mulut, karena pada pasien peritonitis diterapkan untuk menjalani puasa pasca operasi. Sehingga perlu dilakukan ord card untuk emmbersihkan bakteri, sisa-sisa dari mukosa dan sekresi lain yang berkumpul di mulut,.
- Perawatan kuku dan rambut
® Untuk mencegah infeksi, bau dan perlukaan jaringan demi kenyamanan pasien.
® Perawatan rambut agar mikroorganisme hilang dari rambut, untuk menjaga kondisi kulit kepala. Agar terlihat rapi dan tidak kusut.

Selain itu juga dilakukan perawatan luka pasca operasi dengan tujuan :
- Melindungi luka dari trauma mekanik.
- Mengimbolisasi luka.
- Mengabsorbsi drainase.
- Mencegah kontaminasi dari kotoran-kotoran tubuh (feses + urine).
- Membantu hemostatis.
- Menghambat / membunuh mikroorganisme.
- Memberikan lingkungan fisiologis yang sesuai untuk penyembuhan luka.







DAFTAR PUSTAKA


- Potter, Perry. 1999. Ketrampilan dan Prosedur Dasar. EGC Jakarta.

- Ropper. Nancy. 2002. Prinsip-prinsip Keperawatan. Jakarta.

- Corpenito, Lyndo Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC Jakarta.

- Price, Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC Jakarta.

- Tim Keperawatan. 2007. Modul Keperawatan NSP. STIKES SURYA GLOBAL. Yogyakarta.

















MAKALAH
“PENYAKIT PERITONITIS”
NURSING SIMULATION PROGRAM
(NSP)













Disusun Oleh
Nama : RETNA SARI
NIM : 04.06.1389
Kelas : B / KP / III
Prodi : ILMU KEPERAWATAN





SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2007
KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Praktikum Nursing Simulation Program (NSP) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta.
Serta tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pembimbing NSP dan asisten dosen NSP yang telah memberikan arahan dan masukan yang sangat bermanfaat.
Kepada teman-teman yang telah membantu dalam mengumpulkan bahan-bahan pembuatan makalah.
Tentu saja makalah ini masih banyak kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu sangat diharapkan saran serta kritik yang membangun.



Yogyakarta, 2007


Penulis







ii
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I LANDASAN TEORI............................................................................ 1
A. Pengertian dan Pembagian Peritonitis................................................ 1
B. Penyebab Peritonitis ........................................................................ 1
C. Patofisiologi Peritonitis...................................................................... 2
D. Tanda dan Gejala Klinis.................................................................... 3
E. Perawatan Pasien Pra Operasi dan Pasca Operasi............................ 3
BAB II ASUHAN KEPERAWATAN .............................................................. 5
A. Pengkajian ...................................................................................... 5
B. Analisa Data..................................................................................... 12
C. Intervensi ........................................................................................ 13
BAB III KESIMPULAN ................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
iii

Tidak ada komentar: